Rabu, 22 Juli 2009

Kegiatan Wisata Bahari

Pada hakekatnya pengembangan wisata bahari merupakan respon dari perkembangan demand wisatawan pada skala dunia. Hal ini disebabkan karena adanya pertumbuhan populasi dunia yang relatif cukup tinggi serta meningkatnya pendapatan masyarakat dunia, sehingga berpengaruh terhadap adanya peningkatan jumlah wisatawan international yang cukup besar. Disamping itu terjadi pula peningkatan minat para wisatawan yang mengarah kepada “bahari”.

Data tahun 2000 menunjukkan bahwa international tourist mencapai sebanyak 697 juta orang dengan pertumbuhan selama sepuluh tahun rata-rata sebesar 4,3% per tahun. Pada tahun 2000 tersebut jumlah wisatawan yang berpesiar dengan menggunakan kapal pesiar mencapai 10 juta buah kapal dengan rata-rata pertumbuhan per tahun sebesar 10%. Pada tahun 2005 diprediksikan jumlah kapal pesiar di dunia akan terus meningkat hingga mencapai 14 juta buah.

Sebenarnya Indonesia memiliki potensi yang sangat besar untuk pengembangan kegiatan wisata bahari – dengan 17.000 buah pulaunya yang sangat indah seharusnya dapat menarik wisatawan dunia yang ada. Dari pulau-pulau tersebut ditetapakan sebagai pulau pariwisata bahari karena memiliki keindahan dan estetika laut yang unik, sebagaimana beberapa contoh pula yang disebutkan di atas.

Saat ini kegiatan wisata bahari di Indonesia belum menggembirakan – dimana jumlah kapal pesiar yang berlabuh di kawasan Asean masih didominasi oleh Singapura (58,7%); Malaysia (16,3%); Thailand (16,1%); dan negara Asean lainnya (7,5%). Indonesia hanya mampu menyerap sekitar 1,4%, padahal keindahan alam dan pulau-pulau kecilnya dimiliki oleh Indonesia. Mampukah kita bersaing ?.

Pada tahun 2000, jumlah wisatawan dengan kapal pesiar yang berkunjung ke Indonesia adalah sebanyak 8.020 orang. Indonesai mulai dikunjungi kapal pesiar sejak tahun 1980-an. Angka kunjungan tertinggi adalah pada tahun 1988, yaitu sebanyak 20.164 orang. Namun karena krisis ekonomi dan polotik, banyak kapal pesiar yang hanya melewati perairan Indonesia tanpa berlabuh. Jumlah kapal pesiar yang berlabuh di Indonesia sejak tahun 1998 sampai dengan tahun 2000 mengalami penurunan yang cukup drastis, dimana pada tahun 1998, terdapat 32 buah kapal yang berlabuh dan menurun menjadi 14 buah kapal pada tahun 2000.

Ada empat masalah utama yang kurang mendukung pengembangan wisata bahari di Indonesia, yakni:
• Belum adanya perencanaan terpadu antar berbagai sektor;
• Belum tersedianya infrastruktur pelabuhan khusus untuk kapal pesiar;
• Belum adanya tour operator yang khusus menangani wisata kapal pesiar,
• Kurangnya promosi obyek wisata bahari, dan
• Prosedur birokrasi yang panjang untuk mendapatkan “Cruising Approval for Indonesian Territory – CAIT” (political clearance; security clearance; and sailing permit).

Padahal di sisi lain, ada beberapa keuntungan yang dapat diperoleh dengan mengembangkan wisata bahari di Indonesia, yakni: pertama, dapat mendatangkan wisatawan dalam jumlah besar, yang berarti mendatangkan devisa bagi negara. Kedua, mempromosikan Indonesia dengan memanfaatkan potensi wisata bahari. Ketiga, membuka akses ke objek-objek wisata - terutama yang marine-based. Keempat, adalah dapat mengembangkan potensi ekonomi pulau-pulau kecil. Khusus, terhadap aspek ekonomi akan dapat meningkatkan ekonomi lokal dan nasional, terjadinya peningkatan kesempatan kerja; mempercepat pertumbuhan kawasan Timur Indonesia – karena memiliki potensi wisata bahari yang sangat besar; dan pada umumnya tidak membutuhkan infrastruktur pendukung yang kompleks.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar